Minggu, 17 Agustus 2014

Filled Under: ,

Jejak Tapak Mantan Bupati Sinjai

Pada tanggal 1 Pebruari 1960 yang silam, Mayor Purnawirawan TNI/AD Abdul Latief dilantik sebagai Bupati Sinjai pertama menyusul ditetapkannya Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II di Sulawesi, dan diresmikannya Sinjai menjadi Kabupaten Daerah Tingkat II Sinjai sebagai Daerah Otonom. dengan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor UP.712/44 tanggal 28 Januari 1960.

Sebagai Daerah Otonom Baru (DOB) pada saat itu, maka berbekal dengan potensi dasar wilayah geografis dan sumber daya manusia yang dimilikinya, Pemerintah dan masyarakat Sinjai mulai berkemas mengembangkan penyelenggaraan pemerintahan serta melaksanakan pembangunan dan pemberdayaan untuk mewujudkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih baik dari kondisi sebelumnya sebagaimana yang menjadi amanat pembentukannya.

Tingkat kesulitan yang dihadapi oleh pemerintah daerah untuk memulai kegiatan penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan pada separuh abad lebih yang silam, tentu sangatlah berat, karena selain keterbatasan anggaran dan boleh jadi dukungan SDM yang juga belum terlalu memadai, disamping infrastruktur yang juga kurang mendukung untuk melakukan akselerasi gerakan pembangunan, bahkan sistem pemerintahan yang sentralistik, mungkin menjadi bagian tak terpisahkan dari berbagai kompleksitas permasalahan yang harus segera dituntaskan untuk segera membangun fondasi pemerintahan yang kuat dalam mewujudkan tugas, fungsi dan kewenangannya.

Namun demikian, hambatan dan tantangan yang dihadapi Bupati Abdul Latief waktu itu, tampaknya tidak menyurutkan langkah dan semangatnya bersama masyarakat Sinjai, bahkan menjadi pemicu spirit baginya untuk terus bekerja dan berkarya dalam memulai peletakan dasar-dasar pemerintahan dan pembangunan di Kabupaten Sinjai, sehingga kemajuan Sinjai saat ini tentu tidak terlepas dari keberhasilan perjuangan para Bupati sebelumnya.

Hal lain yang kemudian menjadi karya hidup Abdul Latief di Kabupaten Sinjai sampai saat ini, yang juga sering dijadikan sebagai salah satu icon kebanggaan dan kebesaran Sinjai  adalah keberhasilannya dalam merintis dan mengembangkan tanaman cengkeh yang secara nyata telah memacu peningkatan kesejahteraan masyarakat petani sekaligus turut mengharumkan nama Sinjai sampai pada tingkat nasional.

Jadi meskipun hanya sempat memimpin Sinjai sebagai Bupati selama kurang lebih tiga tahun (1960-1963), namun Abdul Latief yang pada jiwa raganya mengalir darah militer yang kaya dengan kemampuan strategi dan teritorial, telah mengantar Sinjai sebagai daerah yang mampu menunjukkan eksistensi dan jati dirinya.

Keberhasilan Abdul Latief, tentu tidak hanya terputus pada sebatas peletakan dasar pemerintahan dan pembangunan, tetapi dalam hal kesinambungan kaderisasi pemimpin juga berhasil dilaluinya dengan baik melalui pergantian Bupati selanjutnya yang kemudian dijabat oleh Andi Azikin (1963-1967).

Bupati Sinjai yang kedua ini, juga tidak terlepas dari prestasi gemilang yang diukirnya pada masa pemerintahannya, karena selain meneruskan cita-cita perjuangan pendahulunya dengan melalui berbagai upaya penyempurnaan, Andi Azikin, juga mulai mengembangkan penataan perkotaan yang diharapkan bisa mencitrakan pusat ibukota sebagai sentral pelayanan pemerintahan, sehingga dalam kepemimpinannya selama empat tahun, Andi Azikin berhasil merintis dan merealisasikan pembangunan infrastruktur jalan dengan dua jalur yang kemudian dikenal dengan nama Jalan Jenderal Sudirman yang sekaligus menjadi akses perluasan dan penataan kota pada saat itu.

Sukses yang diraih dari kedua Bupati Sinjai sebelumnya, tampaknya memang telah menginspirasi masyarakat Sinjai untuk terus bergerak maju membangun diri dan daerahnya, masyarakat Sinjai tidak ingin tertinggal jauh dari daerah-daerah lain yang ada di provinsi Sulawesi Selatan, apalagi bumi Sinjai diyakini memiliki potensi kekayaan yang tidak kalah dengan daerah lain, bahkan potensi alamnya yang tersebar pada tiga dimensi wilayah geografis, pantai/pulau, dataran, dan perbukitan/pegunungan menawarkan banyak alternatif pengembangan dan pemberdayaan.

Karena itu, pada masa kepemimpinan Drs. H. Muh. Nur Thahir sebagai  Bupati Sinjai yang ketiga, selain tetap mendorong dan memacu pengembangan keberhasilan yang telah diraih masyarakat bersama para pemimpin pendahulunya, H. Muh. Nur Thahir, tampaknya tidak ingin menafikkan potensi dasar masyarakat Sinjai yang juga  berbasis agraris, sehingga pada masa pemerintahannya, berkembang obsesi untuk mengangkatkan produktifitas pertanian khususnya pada wilayah daerah yang memiliki potensi areal persawahan yang terbentang dari barat sampai timur, sehingga pada saat itu, bersama dengan tokoh masyarakat Sinjai Karaeng Badong, Bupati H. Muh. Thahir mulai menjajaki kemungkinan pengembangan irigasi, karena baginya hasil pertanian masyarakat Sinjai yang hanya mengandalkan sawah tadah hujan, sangat sulit untuk dimaksimalkan.

Harapan itulah yang kemudian mendorong upaya penelusuran dan perintisan pengembangan irigasi Kalamisu, meskipun pada periode pemerintahannya pada tahun 1967-1971, irigasi itu belum dapat diwujudkan seperti kondisinya yang ada pada hari ini, namun ide dasarnya tidak terlepas dari kebersamaannya dengan harapan dan gagasan tokoh masyarakat Sinjai, sehingga keberadaan irigasi Kalamisu yang ada saat ini, tentu tidak bisa dilepaspisahkan dari karya dan kreasinya.

Jika dilihat dari masa kepemimpinannya, ketiga Bupati Sinjai tersebut, memang hanya melakoni kepemimpinannya kurang dari limat tahun, tetapi mungkin patut diapresiasi, bahwa masa kepemimpinannya yang singkat itu, tidak hanya telah menorehkan sejarah pemerintahan dan kekuasaan, tetapi mereka pun telah mewariskan karya nyata dan menginspirasi pengembangan yang sangat berarti bagi kemajuan Sinjai.

Dalam rentang interval waktu selama kurang lebih 11 tahun meskipun dengan tiga Bupati, memang masih sangat sulit untuk mewujudkan harapan  yang komprehensif, tetapi paling tidak, justeru dari waktu yang singkat itulah lahir, tumbuh, dan berkembang banyak keinginan, menyingkap berbagai kebutuhan di tengah beragam tantangan yang juga menyeruak, dan pada akhirnya selalu melahirkan semangat baru untuk terus maju menerobos setiap krisis.meraih peluang.

Hal ini kemudian mulai terbukti secara perlahan dengan hadirnya Bupati Sinjai yang keempat Drs. H. Andi Bintang yang mendapat amanah dan kepercayaan menjadi Bupati selama 12 tahun dengan dua periode masa jabatan (1971-1983).

Pembangunan dalam fase kepemimpinan Andi Bintang, tidak hanya terfokus pada sarana dan prasarana fisik semata, tetapi pendekatan pembangunan yang berorentasi pada aspek sosial budaya pun di rambahnya sebagai salah satu upaya menghimpun kekuatan human resource dalam simpul kesatuan yang utuh sebagai potensi pembangunan utama yang berbasis pada nilai luhur budaya daerah Sinjai yang dikenal religius, sehingga dalam masa pemerintahannya, Andi Bintang memulai pembangunan masjid Nujumul Ittihad di jalan Persatuan Raya Kecamatan Sinjai Utara, yang kini menjadi salah satu masjid kebanggan masyarakat Sinjai.

Membangun sumber daya manusia bagi Andi Bintang, tampaknya tidak hanya cukup pada sisi rohanianya semata, melainkan perlu adanya keseimbangan pembangunan jasmani, yang kemudian mendorongnya untuk membangun sebuah pusat olah raga yang kini dikenal dengan nama stadion Andi Bintang.

Untuk kesinambungan pembangunan yang telah dirintis pendahulunya Andi Bintang kemudian mengembangkan Mannanti sebagai salah satu wilayah pemukiman, dan area pertanian serta perkebunan, tidak hanya tanaman cengkeh yang telah ada, tetapi berbagai tanaman produktif yang bernilai komoditas ekspor pun dikembangkannya bersama masyarakat, sehingga Mannanti kian tumbuh sebagai bagian wilayah Sinjai yang menjajikan masa depan kesejahteraan lebih baik.

Sukses dalam mengembangkan pembangunan sosial, budaya dan ekonomi, tidak membuatnya berpuas diri dan berbagngga hati, Andi Bintang lalu melirik pusat pelayanan pemerintahan yang diharapkan dapat lebih layak untuk mencitrakan daerahnya sebagai penyelenggara pemerintahan, pelayan masyarakat, sehingga pada pemerintahannya pun Andi Bintang mewujudkan bangunan Kantor Bupati dan Rumah Jabatan Bupati yang keduanya juga berlokasi di jalan Persatuan Raya.

Bangunan pemerintahan ini, tentu tidak hanya semata-mata sebagai symbol kebanggaan pemerintah, tetapi pada bangunan inilah Andi Bintang berharap pelayanan masyarakat bisa lebih maksimal, pembangunan dapat lebih terpacu dari berbagai formulasi kebijakan, sekaligus sebagai simbol untuk lebih mewujudnyatakan eksistensi pemerintahan daerah Kabupaten Sinjai.

Untaian keberhasilan Andi Bintang memajukan Sinjai dalam sepuluh tahun masa kepemimpinannya, semakin menumbuhkan keyakinan dan spirit masyarakat Sinjai untuk meraih lebih banyak harapan dari penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan.

Kondisi emosional masyarakat yang kian matang itu, akhirnya kembali bersambut oleh H. Andi Arifuddin Mattotorang Bupati Sinjai yang ke lima dengan masa jabatan 10 tahun atau dua periode (1983-1993).

Sebagai penerus dari empat Bupati sebelumnya, H. Andi Arifuddin Mattotorang tentu tidak terlalu kesulitan untuk memulai penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Sinjai, karena para pendahulunya telah meletakkan fondasi yang kuat dan telah mulai mengakar pada setiap lapisan masyarakat, sehingga dibutuhkan konsitensi kesinambungan baik dari sisi kebijakan maupun pada aspek peningkatan, karena perubahan yang berarak dari setiap hitungan waktu,  selalu mengarah pada harapan akan adanya peningkatan, bukan sesuatu yang stagnan pada pengaburan nilai apalagi penguburan makna dan sejarah, sehingga dalam rentang waktu pengabdiannya, H. Andi Arifuddin Mattotorang, juga terus berupaya mendorong peningkatan kualitas upaya masyarakat dalam mebangun diri dan lingkungannya. Berbagai tanaman komoditi pun bernilai dollar berhasil dikembangnkannya secara beriring dengan tanaman primadona masyarakat lainnya.

Bahkan lebih dari itu, akselerasi pembangunan yang dilakukannya tidak hanya berorientasi pada nilai ekonomi semata, tetapi Bupati ini juga mulai melihat potensi ancaman kondisi geografis wilayah yang sewaktu-waktu dapat membahayakan keselamatan warganya dan mungkin dapat merusak lingkungan pemukiman, sehingga konsep pembangunan berwawasan lingkungan pun mulai diterapkannya, khususnya pada daerah pesisir yang dipandang rawan, dan hal inilah yang kemudian menjadi motor penggerak penanaman bakau di Tongke-Tongke yang juga telah menjadikan Sinjai terkenal sampai ke belahan dunia.

Terlepas dari hiruk pikuk pembangunan fisik yang dilakukannya, H. Andi Arifuddin Mattotorang juga sangat konsen dalam upaya memajukan penyelenggaraan pemerintahan di daerah Kabupaten Sinjai, sehingga pada periodenya, H. Andi Arifuddin Mattotorang, mulai mengembangkan kantor pusat pelayanan pemerintahan dengan membangun kantor Bupati baru yang lebih representatif di jalan Jenderal Achmad Yani sesuai kebutuhan jaman waktu itu. Pembangunan sarana dan prasarana pemerintahan ini juga dibarengi dengan upaya penegakan disiplin di kalangan aparat, peningkatan sumber daya aparat yang diharapkan dapat lebih meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Sementara itu, bagi penggantinya H. Muh. Roem yang merupakan Bupati sinjai keenam dengan masa pemerintahan 10 tahun atau 2 periode (1993-2003), Sinjai kemudian lebih mengalir dalam menyelenggarakan pemerintahan dan melaksanakan pembangunan, bukan hanya karena kemajuan yang telah diraih para pendahulunya, yang juga telah berhasil menumbuhkan kesadaran dan membangkitkan semangat pembangunan masyarakat, tetapi Roem juga memang dikarunai kecerdasan tersendiri dalam memimpin disamping kepiawaiannya yang tidak kalah dengan pendahulunya dalam mengobarkan semangat pembangunan di daerahnya. Padahal disadari sepenuhnya jika pada masa kepemimpinan Roem inilah situasi pemerintahan justeru dperhadapkan dengan kondisi kemajuan berpikir yang luar biasa dari masyarakat seiring dengan bergulirnya desakan reformasi yang berkobar bagai api hendak membakar setiap sisi pemerintahan dari tingkat atas sampai pada level pemerintahan terendah.

Namun, dengan kemampuan intelektual dan kematangan emosional  yang menyatu dengan pengalamannya sebagai akademisi dan politisi dalam performance kepribadiannya yang sederhana, Roem dapat melanggengkan kekuasaannya hingga akhir periodenya dengan dukungan masyarakat Sinjai, dan dari buah pikirannya, serta dengan sentuhan kepemimpinannya, berbagai prestasi pun diukirnya, tidak sedikit program yang harus dilanjutkan untuk direalisasikan diantara banyak inovasi yang digelontorkannya, sehingga Sinjai tidak hanya mengalami banyak kemajuan, tetapi berbagai lompatan berhasil ditapaknya meski tak harus meninggalkan jejak langkah pembangunan para pendahulunya.

Bahkan pada periode kepemimpinannya, Roem berhasil menuntaskan beberapa program kebutuhan masyarakat yang pernah dirintis pendahulunya seperti irigasi kalamisu yang kemudian berhasil mengairi sawah dari kecamatan Sinjai Tengah sampai beberapa wilayah dpersawahan di kecamatan Sinjai Timur, pemekaran ibu kota kabupaten Sinjai melalui perintisan sarana jalan yang menghubungkan kelurahan di Sinjai Utara yang menjadi ibu kota kabupaten, serta pembangunan dan penataan drainase.

Pengembangan jalur transportasi tidak hanya terhenti pada lingkar wilayah perkotaan, tetapi pengembangan jalan pada lintas desa di seluruh wilayah kabupaten, juga menjadi skala prioritas yang diharapkan dapat lebih memicu denyut nadi perekonomian masyarakat, khususnya dari kantong-kantong produksi ke tempat pemasaran.

Karena itu, kemajuan pembangunan jalur transportasi yang seiring dengan kemajuan pembangunan perekonomian masyarakat yang terus meningkat, alumnus Lemhanas ini, kemudian memandang penting perlunya sarana pemasaran hasil produksi perekonomian masyarakat di satu sisi dengan penertiban dinamika perkembangan di lain sisi, sehingga pembangunan pasar yang lebih baik, dan terminal yang lebih nyaman pun diwujudkannya.

Sepuluh tahun memang sepertinya tidak cukup bagi Roem untuk merealisasikan berbagai program dan kegiatan yang seakan sudah tersusun dan bahkan cenderung mengucur mengikuti setiap kiprah dan upayanya untuk memajukan daerahnya, walaupun harus tetap diakui jika Roem harus bekerja ekstra untuk mendapatkan tambahan dana, baik dari pusat maupun dari Pemerintah Provinsi, mengingat Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dinakhodainya, sangat tidak memungkinkan untuk mendanai kebutuhan pembangunan.

Sebagaimana yang menjadi tuntutan wilayah geografis daerahnya, maka selama sepuluh tahun, Roem harus menjelajahi daerah perbukitan dan pegunungan, merambah belantara hutan dan perkebunan, menelusuri setiap dataran hingga harus membelah ombak untuk memberikan pengabdian terbaiknya secara adil berdasarkan kebutuhan di Sembilan pulau.

Beragam komoditi yang telah ada dan tumbuih di masyarakat, dikembangkannya secara berkesinambungan, intensifikasi dan eksentifikasi seakan menjadi pola yang harus tetap didorong secara terencana, potensi alam benar-benar ingin dimanfaatkannya secara maksimal, sehingga Gunung Perak sebagai salah satu Desa yang berada di ketinggian Kecamatan Sinjai Barat pun, tak luput dari perhatian pengembangannya, mulai dari pengembangan tanaman kentang sampai pada pewilayahan komoditas sapi perah pada desa yang sama, tanpa harus meninggalkan program penggemukan sapi secara beriring dengan pengembangan tanaman vanilla di kecamatan Sinjai Selatan disamping pengembangan ternak lainnya yang tersebar di beberapa wilayah.

Singkatnya, Roem memang sepertinya sangat memahami, bahwa potensi pertanian dan peternakan di daerahnya, tidak hanya akan menjadi basis peningkatan perekonomian masyarakat untuk mencapai tingkat kesejahteraannya, tetapi Roem juga seakan berkeyakinan, bahwa dengan pengmebangan potensi pada sektor itu yang mengedepankan daya saing yang kompetitif, juga akan menjamin stabilitas perekonomian masyarakat seperti yang telah terbukti pada saat terjadinya krisis moneter yang berkepanjangan di era pemerintahannya, Sinjai seakan tidak goyah dan tak berpengaruh, bahkan pemilik tanaman komoditas bernilai ekspor itu, berhasil meraih keuntungan berlipat ganda.

Demikian halnya pada sektor perikanan dan kelautan, Roem seakan tak pernah puas dengan satu keberhasilan yang diraihnya, bahkan mungkin kadang lupa kalau dirinya telah menorehkan banyak prestasi, sehingga pada sector perikanan ini Roem tidak hanya berkonsentrasi pada perikanan laut semata, karena terbukti kemudian dari beberapa program budidaya ikan tawar dan udang galah, yang menyebar pada berbagai wilayah di Kabupaten Sinjai.

Demikian halnya dengan peningkatan sarana dan prasarana dalam upaya mendukung usaha masyarakat pada sector perikanan dan kelautan, Roem kemudian mendorong upaya peningkatan pendapatan asli daerah melalui pelelangan ikan di TPI Lappa Larea-rea dan Tongke-Tongke.

Begitu pula dengan kesuksesannya pada mega proyek irigasi Kalamisu semakin mendorongnya mewujudkan program mega proyek lainnya berupa  pembangunan pelabuhan laut Larea-rea yang dirintis dengan sebuah harapan, pelabuhan laut yang berada di Teluk Bone ini, akan menjadi tempat berlabuh bagi warga yang berasal dari kawasan timur Indonesia.

Dari sisi pemberdayaan masyarakat dan human relations, Roem yang berbekal pengalaman sebagai akademisi dan politisi, juga memang tampak piawai dalam membangun hubungan kemanusiaan, bahkan Roem tergolong salah satu pemimpin yang sangat peduli dan memperhatikan serta melibatkan para pemimpin informal yang ada di tengah masyarakat. Dan kehadiran para pemimpin informal itu, memang terasa sangat membantu di dalam proses sosialisasi program ke tengah masyarakat.

Khusus pada bidang penyelenggaraan pemerintahan, Roem memang diperhadapkan minimal pada dua agenda perubahan nasional, yakni agenda Reformasi  yang berantai dengan pelaksanaan otonomi daerah, dan kedua agenda itu berhasil dilaluinya dengan baik.

Bahkan pada masanya, tuntutan syiar islam yang juga merambah hingga pusat pelayanan pemerintahan hingga ada yang menghendaki perda syariat islam, Roem pun memperlihatkan responnya dengan mengimbau para PNS perempuan untuk menggunakan jilbab, dan hasilnya imbauan itu pun ibarat gayung bersambut, hampir sulit menemukan PNS perempuan muslim yang tak lagi berjilbab pada saat itu, bahkan pada acara-acara tertentu Roem pernah memperlombakan lomba baca Al Qur’an secara berpasangan antar kepala SKPD.

Mungkin masih banyak keberhasilan yang telah diukir selama 10 tahun memimpin Sinjai, namun tidak berarti bahwa segala harapan telah terpenuhi, apalagi dinamika pembangunan dan kebutuhan daerah serta masyarakat terus berkembang seiring dengan perkembangan waktu, namun keberhasilan setiap pemimpin pada jamannya, bukan hanya menjadi sejarah atau catatan prestasi semata, tetapi paling tidak akan selalu menjadi mata rantai dalam rentang perubahan yang terus bergerak pada setiap waktu dan jaman, sehingga taka da kata berhenti untuk sebuah karya dan pengabdian demi mencapai kemajuan.

Demikian halnya dengan kondisi daerah kabupaten Sinjai, gerak pembangunan tidak boleh berhenti walau pimpinan harus berganti sesuai masa, namun ide, gagasan serta peran aktif semua pihak harus tetap memberi warna dalam setiap untaian perubahan dan pembangunan.

Pertengahan tahun 2003, Roem mengakhiri tugasnya sebagai Bupati Sinjai, pengabdiannya pun dilanjutkan oleh penerusnya Andi Rudiyanto Asapa yang juga mendapat kepercayaan memimpin Sinjai sebagai Bupati selama dua periode (2003-2013).

Andi Rudiyanto Asapa, memang bukan berangkat dari latar belakang birokrat. Tapi sebelum menjadi bupati Sinjai, Juli 2003, lulusan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar ini memang sudah kerap berhubungan dengan masyarakat, tak terkecuali kaum marginal. Dia lebih dikenal sebagai pengacara dan pernah menjabat Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar. Pengalamannya di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dirasakan menjadi bekal yang amat berharga dalam menata program ketika dipercayakan menjabat bupati Sinjai.

Sebagaimana dengan para pendahulunya, Andi Rudiyanto Asapa juga menggelontorkan karya dan kreasi pengabdian terbaiknya bagi daerah dan masyarakat yang dipimpinnya, bahkan obsesinya memajukan Sinjai melebihi harapan kebanyakan orang, sehingga pada awal kepemimpinannya, nada keraguan, kekhawatiran, bahkan mungkin ada yang kurang percaya jika Bupati Sinjai yang ke 7 ini mampu melakukannya. Namun kesemua itu tidak menyurutkan niat, langkah, semangat, dan strateginya.

Entah karena backgroundnya sebagai lawyer atau karena dominasi keinginannya yang kuat untuk lebih meningkatkan kualitas SDM dan harkat serta martabat daerah dan masyarakat Sinjai, sehingga aksentuasi perhatiannya pada awal pemerintahannya tertuju kepada upaya pemberian perlindungan terhadap para petani dari praktik ijon. Bupati yang akrab disapa Rudi ini tidak menginginkan harga produk petani berada di bawa standar, maka Dinas koperasi pun diperintahkannya untuk mengatasi masalah ini.

Sementara perhatiannya pada upaya peningkatan kualitas SDM, Rudi kemudian menyemai program tiga pilar pembangunan secara sinergi dengan pemberdayaan dan penguatan ekonomi kerakyatan, melalui penegakan pilar agama sebagai basic dalam membangun moral dan akhlak SDM, pilar pendidikan dengan penyelenggaraan pendidikan gratis dari PAUD sampai dengan SLTA/sederajat negeri ataupun swasta, pilar kesehatan dengan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda), serta ekonomi kerakyatan.

Dalam hitungan bulan kepemimpinannya, program itu secara terbatas mulai digelontorkan pada beberapa kecamatan yang ditunjuknya sebagai percontohan, dan memasuki tahun-tahun berikutnya, semua program yang dikemasnya pun terlaksana secara utuh.

Guna menjamin kualitas pelaksanaannya, program itu pun tidak hanya dikemas sebatas pada pemberian pelayanan gratis, atau insentif semata seperti insentif untuk guru mengaji, imam masjid, dan penjaga kuburan, tetapi juga dilakukan peningkatan kualitas sarana dan prasarana seperti rehabiltasi masjid disamping bantuan pembangunan masjid yang baru, perbaikan  RSUD, penyediaan alat-alat kesehatan, peningkatan type RSUD disertai dengan  peningkatan jumlah jenis pelayanan serta tenaga medis sampai dokter ahli, bahkan pembangunan pustu sampai tingkat perdesaan pun tetap digalakkannya dengan prinsip bahwa pelayanan harus dapat menjangkau masyarakat, bukan masyarakat yang harus selalu bersusah payah untuk menjangkau pelayanan, yang kemudian mendorong adanya pelayanan kesehatan mobile, dimana masyarakat dalam lingkup derah Kabupaten Sinjai dapat menikmati fasilitas layanan sekelas VVIP, melalui penjemputan pasien dengan ambulance dan tenaga medis.

Untuk kenyamanan pelaksanaan proses belajar, maka rehabilitasi sekolah pun tidak lepas dari perhatiannya, bahkan untuk menjamin semua usia sekolah dapat menikmati pelayanan pendidikan, maka beberapa sekolah baru di berbagai kecamatan berhasil diwujudkannya pada semua level jenjang pendidikan.

Terlepas dari pelayanan dasar sosial tersebut, Rudi pun menggenjot pembangunan insfrastruktur jalan, baik kuntitas maupun kualitas yang semua itu ditujukan untuk lebih memperlancar mobilitas masyarakat dalam upaya menunjang pengembangan kelancaran perekonomian daerah dari lingkup perdesaan sampai perkotaan, bahkan pada masa kepemimpinannyalah jembatan yang menghubungkan Kecamatan Sinjai Timur dan Kecamatan Tellulimpoe, berhasil diwujudkannya di Desa Sanjai dan Bua.

Pada semua sector perekonomian, mulai dari peternakan, perikanan, perkebunan, sampai pada sector pertanian pun dirambahnya tak tersisa, baginya tak boleh ada satu kebutuhan masyarakat yang tidak tersentuh dengan kehadiran fasilitasi pemerintah sebagai pelayan masyarakat meskipun tidak berarti harus menutup kran peran serta masyarakat untuk berkreasi dan berkarya memajukan diri, namun kehadiran pemerintah dalam mendorong dan mengembangkan usaha rakyat harus tetap berjalan.

Keberhasilan masyarakat dalam memacu dan mengembangkan setiap sector, tidak berarti menjadi akhir bagi pemerintah daerah untuk mewujudkan keberdaannya  dalam memfasilitasinya, karena produksi yang melimpah tanpa penanganan pasar yang jelas, juga akan merugikan masyarakat, sehingga bagi Rudi pemerintahan harus tetap berperan, paling tidak membuka akses bagi masyarakat untuk pengembangannya, sehingga dalam kepemimpinannya, Rudi tak henti-hentinya mendorong semua unit kerja dalam jajarannya untuk bersinergi menjembatani setiap potensi masalah yang dapat menghambat laju perekonomian masyarakat.

Dengan gerak cepat yang tanggap dalam memimpin daerah bermotto Bersatu ini, Rudi pun berhasil menyabet setumpuk penghargaan sebagai bentuk pengakuan dari Pemerintah dan masyarakat jika apa yang dilakukan oleh pemerintah daerah, sudah berada pada koridor substansil penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan serta pembinaan dan pemberdayaan. Adapun penghargaan yang diterimanya, antara lain :
1.     Tahun 2004 menerima penghargaan MEDALI PERJUANGAN ANGKATAN 45 (Sebagai Generasi Pelanjut 45) dari DEWAN KEHORMATAN NASIONAL ANGKATAN 45.
2.    Tahun 2005 menerima penghargaan WIDYKRAMA dari Presiden Rep. Indonesia.
3.    Tahun 2006 menerima penghargaan MANGGALA KARYA KENCANA dari Presiden Rep. Indonesia.
4.    Tahun 2006 menerima penghargaan MEDALI EMAS PEDULI PENDIDIKAN dari Menteri Pendidikan Nasional RI.
5.    Tahun 2007 menerima penghargaan PIALA CITRA ABDI NEGARA dari Presiden Rep.Indonesia.
6.    Tahun 2007 menerima Penghargaan INTERNASIONAL BEST EXECUTIVE AWARD 2007-2008 dari ASEAN PROGRAMME CONSULTANT.
7.    Tahun 2007 menerima penghargaan MANGGALA KARYA BHAKTI HUSADA ARUTALA dari Menteri Kesehatan RI.
8.    Tahun 2007 menerima penghargaan SATYA LENCANA PEMBANGUNAN PERTANIAN dari Presiden Rep. Indonesia.
9.    Tahun 2007 menerima penghargaan LEADERSHIP AWARDS SEBAGAI PEMIMPIN BANGSA dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara RI.
10.    Tahun 2008 Menerima Penghargaan Peningkatan Produksi Pangan Nasional dari Presiden RI.
11.    Tahun 2009 Menerima Penghargaan Peniti Emas sebagai Bupati yang Merakyat dari Harian Ujungpandang Ekspres.
12.    Tahun 2012-2013 menerima penghargaan BUPATI PELOPOR PEMBEBASAN AKTA KELAHIRAN dari Menteri Pemberdayaan Perempuan RI.

Dari rangkaian penghargaan ini paling tidak mencitrakan beberapa keberhasilan yang telah diraih oleh Pemerintah dan Masyarakat Kabupaten Sinjai pada masa kepemimpinan Andi Rudiyanto Asapa.

Pada sektor perkotaan, Bupati yang selalu tampil rapi ini, juga tidak mau mebiarkan Sinjai menjadi kota mati pada malam hari hanya karena keterbatasan lampu penerangan jalan, maka ia pun kemudian kembali melakukan penataan lampu penerangan jalan dari perbatasan Kabupaten Bone sampai dengan pintu gerbang kota yang berada di wilayah Kecamatan Sinjai Timur dengan menggunakan genset, sehingga sekalipun ada pemadaman listrik dari PLN, keadaan kota Sinjai tetap bermandi cahaya.

Namun demikian dalam masa kepemimpinannya, Rudi juga pernah diperhadapkan dengan musibah ular biasa berupa banjir bandang yang tidak hanya mengakibatkan kerusakan infrastruktur jalan, jembatan, pengairan serta tanaman masyarakat, tetapi beberapa rumah tempat tinggal masyarakat harus hilang terbawa arus, bahkan korban jiwa pun berjatuhan dengan jumlah yang tidak sedikit.

Pada kondisi tersebut, banyak orang yang kemudian menjadi pesimis, jika Sinjai akan kesulitan untuk bangkit, tetapi lagi-lagi Rudi membuktikan kemampuannya, memaksa perhatian Pemerintah Pusat untuk menjadikan musibah banjir bandang Sinjai sebagai titik perhatian yang harus segera dicarikan solusinya. Dan hasilnya dalam waktu relatif singkat, semua kerugian masyarakat berhasil di atasinya, pembangunan infrastruktur yang rusak, juga tuntas teratasi dengan baik, sehingga pengakuan dari berbagai pihak pun mengalir dengan decak kagum.

Menjelang akhir masa jabatannya selama dua periode, Rudi pun berhasil menuntaskan pembangunan Gedung Kantor Bupati Sinjai di Tanassang, menyusul kesuksesannya membangun gedung pertemuan yang representatif dan pengembangan hotel Sinjai. Walaupun islamic center yang direncanakan secara bersamaan, belum sempat dituntaskannya.


0 komentar:

Posting Komentar