Senin, 25 Agustus 2014

,

PEMDES Adakan Monitoring Keterlambatan LPJ APBDes Tahap I




Demi tertibnya administrasi Pertanggung jawaban keuangan dalam penggunaan Alokasi Dana Desa tahun 2014 secara tepat waktu, Bagian Pemerintah Desa Pemkab Sinjai, kembali harus turun lapangan melakukan monitoring pada beberapa desa yang terlambat menyampaikan Laporan Pertanggung Jawaban Anggaran Pendapatan Belanja Desa (LPJ-APBDes) tahap I tahun 2014.

Kepala Bagian Pemerintahan Desa Pemkab Sinjai, Andi Yusran Maddolangeng yang ditemui di ruang kerjanya menjelaskan, bahwa dalam tiga hari terakhir, ia bersama stafnya telah mendatangi sebelas desa pada tiga kecamatan untuk melakukan monitoring dan evaluasi atas keterlambatan penyampaian LPJ APBDesnya untuk tahap I pertama yang seharusnya kami terima pada akhir bulan Juni kemarin.

Kesebelas desa yang terlambat dimaksud, sebelumnya telah dua kali mendapat teguran tertulis  dari Sekretaris Daerah Kabupaten melalui surat masing-masing nomor 005/01.03.944/Set tanggal 9 Juli 2014 perihal Teguran Keterlambatan LPJ APBDes TAhap I, dan teguran kedua melalui surat nomor 900/01.03.1124/Set tanggal 20 Agustus 2014 prihal Teguran ke 2 Keterlambatan Penyampaian LPJ APBDesa tahap I, dan diminta kepada desa bersangkutan untuk segera menyampaikannya paling lambat taggal 25 Agustus 2014.

Andi Yusran mengungkapkan, bahwa dari hasil monitoring yang dilakukannya bersama dengan stafnya, keterlambatan penyampaian LPJ APBDes tahap I ini, lebih banyak diakibatkan oleh faktor kelalaian perangkat pemerintah desa , khususnya yang membidangi pengelolaan keuangan desa, sebab terbukti kemudian, setelah kami turun menyusul surat teguran yang disampaikan sebelumnya, semua desa yang terlambat, justeru sudah mulai merampungkan LPJnya, dan memang setelah dilakukan evaluasi terhadap kesesuaian administrasi LPJ dengan fisik kegiatan, tidak ditemukan adanya permasalahan, terkecuali yang bersifat teknis pada penatausahaan administrasi keuangannya.

Dengan bimbingan tim monitoring Bagian Pemdes ini, beberapa desa telah menyetor LPJnya untuk diverifikasi, sementara masih ada dua tau tiga desa yang LPJnya harus lebih disempurnakan, namun bagi Kasubag  Administrasi Pemerintahan Desa, Aniwati Amir  yang juga sebagai sekretaris tim, meyakini kalau dalam jangka dua hari ke depan, LPJ dari semua desa yang terlambat, akan rampung dan sudah bisa kami terima di Bagian Pemerintahan Desa.

Untuk menghindari keterlambatan pada tahap berikutnya,  Andi Yusran mengingatkan dan meminta kepada para Kepala Desa agar memberikan perhatian ekstra terhadap ketepatan penyampaian LPJ pada setiap tahapan, karena keterlambatan penyampaian LPJ dalam setiap tahapan, akan merugikan masyarakat dan pembangunan desa, sebab pencairan selanjutnya hanya bisa dilakukan jika LPJ tahap sebelumnya, sudah selesai diverifikasi, "Kami akan terus membina semua desa agar dapat menyelesaikan LPJnya mengingat tahun anggaran yang sudah hampir berakhir," pungkasnya.

Jumat, 22 Agustus 2014

Tegarkan Kerapuhan



Puisi, Tegarkan Kerapuhan

KENDATI HARUS ADA AMARAH DI MUARA
NAMUN RIAK KERESEHAN TAK BOLEH MENGGELAYUT
NIAT TAK HARUS UNTUK MELAYARKAN BAHTERA
MENELUEUR DARI HULU HINGGA HILIR,

WALAU PADA SETIAP SISI TELAH TERTIMPAH BONGKAHAN BUIH MURKA
MESKI NAKHODA TELAH MEMBIAS PADA KEPILUAN HATI
YANG TERSAYAT SENGATAN DERITA SOSIAL EKONOMI
YANG TERGORES TRAGEDI KEMANUSIAAN
YANG HANYA CENDERUNG DISAPA DENGAN SEUNTAI SENYUM
YANG TAK DAPAT MENUNTUN LANGKAH
MENAPAK  TITIAN MENUJU PANTAI SEJAHTERA.

AMARAH DI MUARA TELAH MENGGELAGAR MEMANG
NAMUN SENTUHAN KEBIJAKAN YANG TERLONTAR DARI UJUNG PENA DAN LIDAHMU.
MENJADI SULUH YANG SELALU MENYINARI HARI GELAP,
HINGGA MATA DAN HATI
YANG SELAMA INI HANYA MAMPU MENATAP SISI BURAM KABUT AMARAH,
KINI TELAH DAPAT MENYOROT TAJAM,
“KALAU AMARAH HANYALAH JUSTIFIKASI DARI KEKLIRUAN APLIKASI PROGRAM DAN KEBIJAKAN YANG BERJIWA SENDU”.

BIARLAH MEREKA MENGADUK SAMUDERA DENGAN SEGENGGAM KEKUASAAN YANG KINI BERADA DI TANGANNYA….. HINGGA GELOMBANG MEMUNCAH DAN MENGHEMPAS MENERPA TEPIAN MENGERUHKAN TIAP TETES KEJERNIHAN YANG SELAMA INI MENGALIR TENANG MENYEJUKKAN.
KARENA PADA SAATNYA, KEMUTLAKAN HUKUM ALAM AKAN MENGAKHIRINYA

YAKINLAH KARANG DI DASAR KE DALAMAN SAMUDERA TAK AKAN GOYAH
HANYA KARENA ULAH DI PERMUKAAN YANG MENGACAK
OBSESI SESAAT DENGAN KREASI YANG MINIM
DALAM LINGKUNGAN ZONA KEHIDUPAN TENDENSIUS NAN OPORTUNIS.

TIDAK MUDAH MENAHAN JEMARI MEREKA TUK BERHENTI MENGADUK SAMUDERA, KARENA DI SEKELILINGNYA BANYAK JEMARI LAIN YANG TELAH LATAH MELAKUKANNYA DENGAN ANGAN YANG MEMBUMBUNG TINGGI
WALAU KABUT MENYELIMUTI JIWA DAN NURANINYA.

NAMUN JANGAN PERNAH JENUH MENERIAKKANNY DENGAN LANTANG.
KARENA AKAR RUMPUT DI PERMUKAAN BUMI YANG KAU PIJAK
AKAN TETAP TEGAR TUK MENYANGGA SETIAP LANGKAHMU
MENUJU TAPAL BATAS PENGABDIANMU.

TEGARLAH DENGAN HARAPAN YANG MENJADI KEBUTUHAN BANYAK ORANG.
BINTANG YANG TAK PERNAH BERGESER PADA LANGIT TEMPAT KITA MENDONGAK,
TAK PERNAH SURUTKAN SINAR
DI TENGAH REDUPNYA SINAR MENTARI TERSAPU KELAMNYA MALAM
TIDAK SEMUA LANTAS TERLELAP MENINGGALKAN RELUNG CAHAYA…..

Menapak Usia di Tapal Batas Remaja



SEBAGAI WUJUD KASIH SAYANG PAPA DAN MAMA
KUPERSEMBAHKAN SATU PUISI UNTUK MENGANTAR LANGKAHMU
MENAPAK USIA DI TAPAL BATAS REMAJA
Sumber Google;


DUA BELAS SILAM YANG LALU………
JERIT TANGIS BUNDA YANG TERTEKAN SAKIT
DI ANTARA DERAI TAWA NAN CEMAS SANAK SAUDARA
YANG PENUH HARAP MENANTI HADIRMU …………………

WALAU GULITA MENELAN BUMI MEMBIASKAN TERANG
NAMUN PEKIK TANGISMU SEBAGAI PERTANDA KEHADIRANMU
MAMPU MENYINGKAP CAHAYA TERANG MEMBIUS PEKAKNYA GELAP
DERITA BUNDA PUN LULUH BERGANTI DENGAN SENYUM MEREKAH…

SUNGGUH HADIRMU TELAH MENJADI NIKMAT DAN AMANAH-NYA
KAN KUGENGGAM AMANAH ITU DENGAN PENUH KESYUKURAN……
WALAUPUN DI ATAS PUNDAK RAPUH TERTOPANG KAKI NAN LUNGLAI
KAN KUSANDANG TANGGUNG JAWAB ITU TANPA HARUS TERBEBANI…..

MENTARI 10 JUNI 2007 KINI BERSINAR MENYAPAMU DENGAN RAMAH
SEAKAN INGIN MENGGAPAI TANGANMU UNTUK MENUNTUN LANGKAHMU
MENAPAK USIAMU DI TAPAL BATAS REMAJA
RENGKUHLAH APA YANG INGIN KAU RAIH

NAMUN INGAT ANAKKU…………………………
BAHWA DI USIAMU YANG MENANJAK REMAJA
TERPATRI HARAPAN PAPA DAN MAMA YANG TAK PERNAH USANG
UNTUK SENANTIASA MENATAPMU SEBAGAI TELADAN SELAMANYA

BUKALAH MATA HATIMU ANAKKU …………….
TATAPLAH REALITA HIDUP DENGAN NALURI DAN PIKIRANMU
BETAPA DIRIMU MENJADI TUMPUAN HARAPAN PAPA DAN MAMA
TUK KAU KIBARKAN PANJI KEWIBAWAAN DAN KEHORMATAN KELUARGA

MELANGKAHLAH DENGAN PASTI ANAKKU……………………
GENGGAM PETUAH ORANG TUA SEBAGAI AMANAH …………..
JADIKAN IMANMU SEBAGAI SULUH DALAM HIDUPMU……………
JANGAN PERNAH MENUTUP MATA HATIMU TUK MENATAP KEBENARAN….

SADARILAH ANAKKU……………………….
PADA DIRIMU TERBENTANG FONDASI KEHORMATAN KELUARGA
TEGAKKANLAH SAUDARA-SAUDARAMU SEBAGAI PILAR KEBANGGAAN
PAYUNGILAH KELUARGA PAPA DAN MAMA DENGAN PENGABDIANMU….

PENGABDIAN YANG BERSENDIKAN DENGAN IMAN
PENGABDIAN YANG BERTAHTAKAN DENGAN KASIH SAYANG
PENGABDIAN YANG BERHIASKAN DENGAN ETIKA DAN SOPAN SANTUN
PENGABDIAN YANG BERNAFASKAN DENGAN KETULUSAN……………………

SEMOGA ALLAH SWT SENANTIASA MELINDUNGIMU
AMIN….AMIN….AMIN….


Hidup dalam fluktuasi



Hidup memang bukanlah bentangan garis panjang yang memungkinkan mata untuk menatapnya secara utuh dari titik awal sampai pada ujung akhir, karena ternyata hidup diwarnai dan terbentuk pada fluktuasi peristiwa yang terkadang membuat kita kehilangan arah dan orientasi untuk menatap diri sendiri dan orang lain secara total.

Dalam grafik yang berfluktuasi itu, bayangan sendiri tidak jarang tenggelam dalam lekukan gelombang yang menghempasnya, terlindung pada palung yang tercipta dintara lekukan.

Jika diri sendiri kadang bias untuk kita tatap secara utuh, maka harapan untuk menemukan totalitas orang lain, terasa menjadi sesuatu yang mustahil untuk kita dapatkan, sehingga yang mungkin untuk kita lirik hanyalah serpihan dari sikap dan perilaku yang membias dari segenap performance yang ditampilkan.

Tetapi parahnya, serpihan itu yang pasti cacat berbekas, selalu dipandang sebagai sesuatu yang utuh, sehingga ketika cacat serpihan itu meninggalkan kesan goresan walau setitik, apalagi jika sugesti nilai yang hendak diberikan oleh orang yang melihatnya, turut menyertakan rasa subyektifitas yang tendensius, maka disaat itu, sang penilai tak lebih dari hikayat orang buta yang ingin meriwayatkan kondisi gajah yang sesungguhnya sesuai dengan apa yang dirabanya dari organ tubuh gajah.

Sebaliknya,  jika motivasi subyektifitas penilaiannya terdorong keinginan membius bias yang ditatapnya, maka seburuk dan sehancur apapun serpihan itu, pasti akan tetap menguntai kalimat sanjungan sebagai lakon cari muka.

Kenyataan seperti ini, memang tidak jarang membuat kita keliru, bahkan salah total dalam menentukan pilihan untuk turut menilai sesuatu, karena ternyata indikator kebenaran dan keabsahan, petunjuk kekeliruan dan kesalahan, norma kebaikan dan keburukan, juga tak lebih dari fluktuasi sikap dan sudut pandang masing-masing.

Ada yang berupaya keras mempertahankan eksistensinya dengan jalan harus membantai habis yang lainnya jika itu dipandangnya sebagai kompetitor yang dapat melemahkan langkahnya. Egoisme menjadi pedang ambisinya, apalagi ketika mereka sedikit mendapat kepercayaan dari sentral power, maka bebannya untuk selalu menanamkan pengaruh, melanggengkan kepercayaan dibalik tebaran mimpi yang membumbung pada matanya, yang tetap membelalak, membuatnya semakin mabuk untuk terus membebet, membubut,  membabat, membobot dan membibit untuk dirinya tanpa peduli yang harus dikorbankan.

Ini bukan lagi sekedar fenomena, tetapi sudah menjadi aksioma yang telah akrab dengan kehidupan kita, tidak sedikit orang mencerca dan membencinya walau harus mengikutinya di antara mereka yang berupaya menantangnya meski tak kuasa menaklukkannya, karena memang dia bukan hanya belut, tetapi dia juga ular dan gurita yang merupakan jelmaan ifrid, personifikasi dajjal yang tercecer.

Memberikan pertimbangan seperti dewa penyelamat, tampil bagai pejuang perkasa yang seakan-akan memiliki kebenaran mutlak, semua lubang, celah dan ruang dimasukinya, menabur simpatik dengan sejuta tawaran, seakan semuanya hanya akan menjadi benar jika bersumber darinya,  tetapi pada faktanya, tidak sedikit racun yang disemainya, yang rekat diretakkan, yang tumbuh dibonsainya, yang kuncup pun ditekannya.

Memang tidak semua pintu harus ditutupnya, tidak semua bayangan harus digiring pada cekung garis  fluktuasi, karena dia butuh pengikut dan pembeo, dia begitu lihai memainkan irama, walau tak kadang harus diam dengan akal bulusnya, untuk sekedar menikmati cacian yang dianggapnya senandung penyemangat dari mereka yang sesungguhnya telah menjadi korban kebiadabannya.

Entah sampai kapan garis fluktuasi termanfaatkan olehnya, yang pasti bahwa kehidupan duniawi, tidak menjanjikan keabadian, ada saatnya untuk harus berada pada titik star, menanjak hingga puncak, tetapi juga akan ada waktunya, untuk turun hingga ke dasar palung, bahkan harus meninggalkan garis yang terputus atau diputus secara paksa.